Jika Anak Terlihat “Bandel”, Ini yang Sebenarnya Sedang Terjadi

June 21, 2026 By admin

Dalam keseharian, tidak sedikit orang tua yang merasa anaknya “sulit diatur”. Tidak mau mendengar, sering melawan, atau melakukan hal-hal yang dianggap tidak sesuai arahan. Label “bandel” pun akhirnya cepat diberikan. Padahal, di balik perilaku yang terlihat mengganggu, sering kali ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar ketidakpatuhan.

Anak tidak selalu memiliki kemampuan untuk menjelaskan apa yang ia rasakan. Ketika emosi belum matang, perilaku menjadi bahasa utama mereka. Apa yang tampak sebagai pembangkangan bisa saja sebenarnya adalah bentuk kebingungan, rasa frustasi, atau kebutuhan yang belum terpenuhi. Anak yang terlihat “melawan” mungkin sedang kesulitan mengelola emosi yang bahkan belum ia pahami sendiri. Dalam banyak kasus, perilaku adalah puncak dari sesuatu yang tidak terlihat di bawah permukaan.

Ada juga momen ketika anak terlihat tidak kooperatif bukan karena ingin menentang, tetapi karena mereka sedang mencari ruang untuk merasa memiliki kendali atas dirinya. Di usia tumbuh kembang, kebutuhan untuk merasa “aku bisa memilih” adalah bagian penting dari proses pembentukan identitas. Ketika ruang itu terlalu sempit, reaksi yang muncul sering kali terlihat seperti penolakan, padahal sebenarnya adalah bentuk pencarian diri.

Di sisi lain, hubungan antara orang tua dan anak juga sangat memengaruhi cara anak merespons arahan. Anak yang merasa sering tidak didengar cenderung mengekspresikan dirinya melalui perilaku, bukan kata-kata. Sebaliknya, ketika anak merasa aman dan dipahami, ia lebih mudah menerima arahan tanpa harus menunjukkan penolakan yang berlebihan. Artinya, yang sering dianggap masalah perilaku sebenarnya bisa saja berakar pada kualitas hubungan.

Pada akhirnya, anak yang terlihat “bandel” bukan selalu anak yang bermasalah. Sering kali, itu adalah anak yang sedang berusaha menyampaikan sesuatu dengan cara yang belum sempurna. Dan di titik ini, respons orang tua menjadi sangat menentukan: apakah kita memilih melihat perilaku sebagai gangguan yang harus ditekan, atau sebagai pesan yang perlu dipahami. Sebab perubahan yang sehat tidak lahir dari kemarahan, tetapi dari pemahaman yang lebih dalam terhadap apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri anak.